Saturday, 26 August 2017

hubungan terbalik antara harga barang dengan jumlah yang diminta sebagai hukum permintaan.




Teori permintaan

Permintaan adalah keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu.dengan kata lain permintaan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan:

1. Harga barang itu sendiri
Jika harga suatu barang semakin murah, maka permintaan terhadap barang itu bertambah.

2. Harga barang lain yang terkait
Berpengaruh apabila terdapat 2 barang yang saling terkait yang keterkaitannya dapat bersifat subtitusi (pengganti) dan bersifat komplemen (penggenap).

3. Tingkat pendapatan perkapita
Dapat mencerminkan daya beli. Makin tinggi tingkat pendapatan, daya beli makin kuat, sehingga permintaan terhadap suatu barang meningkat.

4.Selera atau kebiasaan
Tinggi rendahnya suatu permintaan ditentukan oleh selera atau kebiasaan dari pola hidup suatu masyarakat.

5.Jumlah penduduk
Semakin banyak jumlah penduduk yang mempunyai selera atau kebiasaan akan kebutuhan barang tertentu, maka semakin besar permintaan terhadap barang tersebut.

6.Perkiraan harga di masa mendatang
Bila kita memperkirakan bahwa harga suatu barang akan naik, adalah lebih baik membeli barang tersebut sekarang, sehingga mendorong orang untuk membeli lebih banyak saat ini guna menghemat belanja di masa depan.

7.Distribusi pendapatan
Tingkat pendapatan perkapita bisa memberikan kesimpulan yang salah bila distribusi pendapatan buruk. Jika distribusi pendapatan buruk, berarti daya beli secara umum melemah, sehingga permintaan terhadap suatu barang menurun.

8.Usaha-usaha produsen meningkatkan penjualan.
Bujukan para penjual untuk membeli barang besar sekali peranannya dalam mempengaruhi masyarakat. Usaha-usaha promosi kepada pembeli sering mendorong orang untuk membeli banyak daripada biasanya.


Hukum Permintaan
Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan :
“Hubungan antara barang yang diminta dengan harga barang tersebut dimana hubungan berbanding terbalik yaitu ketika harga meningkat atau naik maka jumlah barang yang diminta akan menurun dan sebaliknya apabila harga turun jumlah barang meningkat.”

Kurva Permintaan
Kurva Permintaan dapat didefinisikan sebagai :
“Suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan antara harga suatu barang tertentu dengan jumlah barang tersebut yang diminta para pembeli.” Kurva permintaan berbagai jenis barang pada umumnya menurun dari kiri ke kanan bawah. Kurva yang demikian disebabkan oleh sifat hubungan antara harga dan jumlah yang diminta yang mempunyai sifat hubungan terbalik
.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkqIaJ5Il2LIxs91-EWGuWtYgu0T-1gvc9w7LOx9FTf_z6mkvht9IA2jhqrWDXJ5IMAU9kalAxtbwR_YRDzdProb1QLB5NBsShrlvdy26dDiWyVxBDlIwtWwtqoZPheFyPWr8KVtSz_1o/s320/gambar+2.JPG
Teori Permintaan, Dapat dinyatakan :
“Perbandingan lurus antara permintaan terhadap harganya yaitu apabila permintaan naik, maka harga relatif akan naik, sebaliknya bila permintaan turun, maka harga relatif akan turun.”

Faktor-faktor yang dapat menggeser kurva permintaan
- Faktor harga
Perubahan sepanjang kurva permintaan berlaku apabila harga barang yang diminta menjadi makin tinggi atau makin menurun.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6gQCdh5dC72fyW6jWbOC7Xq7uO1QCllm9thmNP9a2VYdF5pfwlsP_uJHnbE4nutr1sIo6YSeHP2jXz8UeiClz0_MKeVh3mwe8BNGysttzNlbTmlilQa4wVZHdATtest3Zrb1QsQzMBgc/s320/gambar+5.JPG

- Faktor bukan harga
Perubahan sepanjang kurva permintaan berlaku apabila harga barang yang diminta menjadi makin tinggi atau makin menurun. apabila terdapat perubahan-perubahan terhadap permintaan yang ditimbulkan oleh factor-faktor bukan harga, harga barang lain, pendapatan para pembeli dan berbagai faktor bukan harga lainnya mengalami perubahan, maka perubahan itu akan menyebabkan kurva permintaan akan pindah ke kanan atau ke kiri.

Saturday, 19 August 2017

TUGAS 3 Pengantar Akutansi




  1. Pada 1 Agustus 2009, PT. Avant membeli 300 lembar obligasi PT. Grade dengan nilai nominal Rp200.000 per lembar, umur 5 tahun, kurs 99%, bunga obligasi 12% per tahun. Bunga dibayar tiap 1 Februari dan 1 Agustus. Metode amortisasi menggunakan garis lurus.
Diminta: buatlah catatan akuntansi PT. Avant dan PT. Grade untuk transaksi sebagai berikut, sehingga Anda dapat membandingkan jurnal yang dibuat oleh kedua PT tersebut.
a.        Jurnal pembelian obligasi 1 Agustus 2009.
b.        Jurnal penyesuaian 31 Desember 2009.
c.        Jurnal penutup 31 Desember 2009.
d.        Jurnal balik 1 Januari 2010.
e.        Jurnal jatuh tempo bunga dan amortisasi 1 Februari 2010.

  Harga kurs : 300 lbr @ Rp. 200.000,00 x 99%                 = Rp. 59.400.000,00
Provisi dan lain-lain                                                           = Rp. 0
Hasil penjualan obligasi                                                     = Rp. 59.400.000,00

Bunga yang sudah berjalan
( 01 Februari 2009 s.d 01 Agustus 2009 )
Rp. 60.000.000,00 x 6/12 x 12 %                                      = Rp.   3.600.000,00
Jumlah yang diterima PT Grade                                        = Rp. 63.600.000,00
Disagio obligasi = Rp 60.000.000,00 – Rp 59.400.000,00 = Rp.      600.000,00
Pencatatan transaksi tanggal 01 Agustus 2009 ( Mencatat obligasi terjual )

JURNAL YANG DICATAT PT GRADE
Jurnal Penjualan 
Keterangan
Debet
Kredit
Kas
Rp. 63.600.000,00

Disagio
Rp.      600.000,00

          Utang Obligasi

Rp. 60.000.000,00
          Biaya Bunga Obligasi

Rp.   3.600.000,00


Jurnal bunga berjalan
Keterangan
Debet
Kredit
Biaya Bunga Obligasi
Rp. 3.600.000,00

          Utang Bunga Obligasi

Rp. 3.600.000,00






B. Jurnal Penyesuaian tanggal 31 Desember 2009

Pembayaran bunga berjalan obligasi
01 Agustus 2009 s.d 31 Desember 2009                           = 4 bulan
Rp. 60.000.000,00 x 4/12 x 12%                                       =  Rp. 2.400.000,00

Keterangan
Debet
Kredit
Biaya Bunga Obligasi
Rp. 2.400.000,00

          Utang Bunga Obligasi

Rp. 2.400.000,00


Amortisasi Disagio
Disagio = Rp. 60.000.000,00 – Rp. 59.400.000,00                                         
 = Rp. 600.000,00   ( Harga penjualan < Harga Nominal )

Umur  amortisas 5 tahun ( 5 x 12 bulan = 60 bulan )
Amortisasi Disagio perbulan = Rp. 600.000,00 / 60 bulan     = Rp.   10.000,00
Amortisasi Disagio ( 1/08/09 – 31/12/09 = 4 bulan ) 4 bulan @ Rp. 10.000,00 = Rp.   40.000,00


Keterangan
Debet
Kredit
Biaya Bunga Obligasi
Rp. 40.000,00

          Disagio Obligasi

Rp. 40.000,00





C. jurnal Penutup tanggal 31 Desember 2009

Keterangan
Debet
Kredit
Ikhtisar L/R
Rp. 2.440.000,00

          Biaya Bunga Obligasi

Rp, 2.440.000,00

D. Jurnal Pembalik tanggal 01 Januari 2010
Keterangan
Debet
Kredit
Utang Bunga Obligasi
Rp. 2.440.000,00

          Biaya Bunga Obligasi

Rp, 2.440.000,00

E. Jurnal jatuh tempo bunga obligasi dan amortisasi disagio per tanggal 01 Februari 2010

Pembayaran bunga jatuh tempo Rp. 60.000.000 x 2/12 x 12% =  Rp. 1.200.000,00
Keterangan
Debet
Kredit
Biaya Bunga Obligasi
Rp. 1.200.000,00

          Kas

Rp. 1.200.000,00
Amortisasi disagio  ( 2 bulan @ Rp. 10.000,00                 = Rp. 20.000,00 )
Keterangan
Debet
Kredit
Biaya Bunga Obligasi
Rp. 20.000,00

          Disagio Obligasi

Rp. 20.000,00









                       JURNAL YANG DICATAT PT AVANT
( Metode pendekatan L/R )
Jurnal Pembelian
Keterangan
Debet
Kredit
Penanaman modal dalam Obligasi
Rp. 60.000.000,00

Pendapatan Bunga Obligasi
Rp    3.600.000,00

          Kas

Rp. 63.600.000,00
Jurnal Penyesuaian tanggal 31 Desember 2009
Penerimaan bunga obligasi
1/08/09 s.d 31/12/09 = 4 bulan
Rp. 60.000.000,00 x 4/12 x 12% =  Rp. 2.400.000,00
Keterangan
Debet
Kredit
Kas
Rp. 2.400.000,00

          Pendapatan Bunga                    Obligasi

Rp. 2.400.000,00

Jurnal Penutup
Keterangan
Debet
Kredit
Pendapatan Bunga Obligasi
Rp. 2.400.000,00

          Iktisar L/R

Rp. 2.400.000,00
Jurnal Penerimaan bunga obligasi
Keterangan
Debet
Kredit
Kas
Rp. 1.200.000,00

          Pendapatan Bunga                    Obligasi

Rp. 1.200.000,00


2.    ABC sistem adalah konsep akuntansi yang menerapkan pembebanan biaya terhadap aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan suatu produk atau jasa. Sistem biaya berdasarkan aktivitas (ABC) pertama-tama menelusuri biaya aktivitas dan kemudian produk. Asumsi yang mendasari adalah bahwa aktivitas-aktivitas memakai sumber-sumber daya dan produk, sebagai gantinya memakai aktivitas. Oleh sebab itu, ABC juga merupakan proses dua tahap. Akan tetapi dalam sistem biaya ABC menekankan penelusuran langsung dan penelusuran penggerak sedangkan sistem biaya tradisional cenderung intensif alokasi. Fokus perhitungan biaya aktivitas adalah aktivitas. Oleh sebab itu, mengidentifikasikan aktivitas haruslah menjadi tahap awal dalam perancangan sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas.
Manfaat ABC adalah:
a)    Menentukan harga pokok produk secara lebih akurat, terutama untuk menghilangkan adanya subsidi silang sehingga tidak ada lagi pembebanan harga pokok jenis tertentu terlalu tinggi (over costing) dan harga pokok jenis produk lain terlalu rendah (under costing).
b)      Memperbaiki pembuatan keputusan.
c)    Dengan menggunakan ABC tidak hanya menyajikan informasi yang lebih akurat mengenai biaya produk, tetapi juga memberikan informasi bagi manajer tentang aktivitas-aktivitas yang menyebabkan timbulnya biaya khususnya biaya tidak langsung, yang merupakan hal penting bagi manajemen dalam pengambilan keputusan baik mengenai produk maupun dalam mengelola aktivitas-aktivitas sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha.
d)     Mempertinggi pengendalian terhadap biaya overhead.
e)     Biaya overhead di sebabkan oleh aktivitas-aktivitas yang terjadi di perusahaan. Sistem ABC memudahkan manajer dalam mengendalikan aktivitas-aktivitas yang menimbulkan biaya overhead tersebut.
Keterbatasan ABC adalah:
a)      Sistem ABC menghendaki data-data yang tidak biasa dikumpulkan oleh suatu perusahaan, seperti jumlah set-up, jumlah inspeksi, jumlah order yang diterima.
b)  Pada ABC pengalokasian biaya overhead pabrik, seperti biaya asuransi dan biaya penyusutan pabrik ke pusat-pusat aktivitas lebih sulit dilakukan secara akurat karena makin banyaknya jumlah pusat-pusataktivitas.




PURWANTI Y