Wednesday, 28 September 2016

Tugas 3 Pengantar Ekonomi Makro





1.     Apa yang dimaksud dengan perangkat kebijakan fiskal diskresioner?

Kebijakan Fiskal Diskresioner adalah kebijakan fiskal yang digunakan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang sedang dihadapi.

Kebijakan fiskal diskresioner diartikan sebagai langkah-langkah pemerintah untuk mengubah pengeluarannya atau pungutan pajaknya dengan tujuan untuk mengurangi gerak naik turun tingkat kegiatan ekonomi dari waktu ke waktu, menciptakan tingkat kegiatan ekonomi dengan tingkat kesempatan kerja yang tinggi, tidak menghadapi inflasi dan selalu mengalami pertumbuhan yang memuaskan.


Hakekatnya kebijakan diskresioner dapat dibedakan dalam tiga bentuk sekaligus alat untuk menjalankan kebijakan tersebut:
a>     membuat perubahan – perubahan atas pengeluaran pemerintah
b>     membuat perubahan – perubahan sistem  pajak yang dipungutnya.
c>     secara serentak membuat perubahan dalam pengeluaran pemerintah dan system pemungutan pajak.
Secara umum kebijakan fiscal diskresioner dapat digolongkan dalam dua bentuk :
a>      kebijakan fiscal mengembang atau expensionery fiscal policy
b>     kebijakan fiskal mengecut atau contractionary fiscal policy.
Kebijakan yang pertama dilakukan ketika perekonomian menghapi masalah pengangguran dan kebijakan kedua dilakukan pada ketika masalah inflasi dihadapi atau perekonomian mencapai kesempatan kerja penuh dan tingkat pengangguran sangat renda

Umumnya  tujuan yang ingin dicapai oleh kebijakan fiskal adalah kestabilan ekonomi yang lebih mantap, artinya tetap mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi yang layak tanpa adanya pengangguran yang berarti disatu  pihak atau adanya ketidakstabilan harga –harga umum di pihak lain.

2.  Jelaskan 3 stabilisator utama kebijakan fiskal otomatis.

Kebijakan fiscal stabilisator otomatis.
Adalah kebijakan sebagai alat stabilisasi kegiatan ekonomi, peralatan tersebut adalah pajak dan pengeluaran yang dikategorikan dalam transfer payment.

  Kebijakan ini terbagi tiga:

a>  pajak
pajak langsung dapat mengurangi kecendrungan membelanjakan marjinal dari pendapatan nasional, karena itu pajak langsung dapat bertindak sebagai stabilsator terpasang.

b> pengeluaran pemerintah
pengeluaran pemerintah untuk pembelian barang dan jasa relatif stabil terhadap pendapatan nasional yang brubah-ubah . sebagian besar pengeluaran pemerintah sudah disetujui oleh peraturan sebelumnya sehingga hanya sebagian kecil yang dapat diubah .
jadi makin besar peran pengeluaran pemerintah dalam perekonomian yang stabil akan memperkecil  ketidakstabilan pembelanjaan dari pendapatan.

c> pembayaran transfer pemerintah
pembayaran transfer pemerintah cenderung menjadikan pendapatan disposabel stabil sehingga pengeluaran untuk konsumsi juga menjadi stabil sehingga fluktuasi pendapatan nasionala dapat dihadapi.
pembayaran transfer pemerintah cenderung menjadikan pendapatan disposabel stabil sehingga fluktuasi pendapatan nasional dapat dihadapi.


3.  Apa yang menyebabkan tidak meratanya sebaran distribusi pendapatan?

Sebab-sebab terjadinya ketidakmerataan pembagian pendapatan yakni pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk, perkembangan kota desa, dan sistem pemerintahan yang bersifat plutokratis.

 Masalah ketimpangan dalam distribusi pendapatan dapat ditinjau dari tiga segi, yaitu :

a. Distribusi pendapatan antar golongan pendapatan atau ketimpangan relatif.
Jika dilihat dari hasil penelitian SUSENAS dengan menggunakan koefisien Gini, maka akan terlihat bahwa distribusi pendapatan di daerah perkotaan di Jawa lebih buruk daripada daerah di luar Jawa, begitu pula dengan daerah pedesaannya daerah Jawa memiliki tingkat kesenjangan distribusi pendapatan yang rendah bila dibandingkan dengan daerah di luar Jawa.

b. Distribusi pendapatan antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan.
Menurut Gupta dari World Bank, pola pembangunan Indonesia memperlihatkan suatu urban bias, yaitu pembangunan yang berorientasi ke daerah perkotaan, dengan tekanan yang berat pada sektor industri yang terorganisir, yang merupakan sebab terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan yang lebih parah lagi di kemudian hari. Menurut Micahel Lipton, seorang ekonom Inggris, urban bias seringkali terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia di mana alokasi sumber-sumber daya lebih banyak diprioritaskan di daerah perkotaan daripada pertimbangan pemerataan atau efisiensi. Kembali kita perhatikan penjelasan teori ekonomi yang dualistik tentang terjadi kesenjangan pembagian pendapatan di negara-negara sedang berkembang, maka pertama-tama relavansinya terlihat dalam pola kesenjangan yang berbeda antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Oshima menjelaskan keadaan ini (kesenjangan di desa lebih tinggi dari pada di kota), sebagai hal yang unik. Dia meramalkan kesenjangan tersebut akan lebih lebar jika proses pembangunan pedesaan masih akan berlanjut.

c. Distribusi pendapatan antar daerah (regional income disparities).
Ketimpangan dalam perkembangan ekonomi antar berbagai daerah di Indonesia serta penyebaran sumber daya alam yang tidak merata menjadi penyebab tidak meratanya distribusi pendapatan antar daerah di Indonesia khususnya.
Dalam menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan distribusi pendapatan yang merata, maka akan terlihat bahwa negara-negara tersebut secara umum telah menerapkan tujuh model pembangunan seperti yang dikemukakan oleh James Weaver, Kenneth Jameson, dan Richard Blue yaitu ;
1.       Pembangunan yang mengutamakan penciptaan lapangan kerja
2.       Pembangunan yang mengutamakan penyaluran kembali investasi.
3.       Pembangunan untuk memenuhi kebutuhan dasar dari seluruh penduduk.
4.       Pembangunan yang mengutamakan pengembangan sumber-sumber daya manusia.
5.       Pembangunan yang mengutamakan perkembangan pertanian.
6.       Pembangunan yang mengutamakan pembangunan pedesaan terpadu.
7.       Pembangunan yang mengutamakan penataan ekonomi internasional baru.


Purwanti Y # tugas 3 # pengantar ekonomi makro

Saturday, 24 September 2016

INISIASI 7 AUDIT KEPUASAN KERJA




Pengertian
Kepuasan kerja dapat didefinisikan sebagai sikap umum seseorang terhadap pekerjaannya yang berupa perbedaan antara penghargaan yang diterima dengan penghargaan yang seharusnya diterima menurut perhitungannya sendiri ( Muchlas, 2005). Howell dan Dipboye (1986) memandang kepuasan sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dari pekerjaannya. Dengan kata lain kepuasan kerja mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaannya. ( Munandar, 2001).

Teori Kepuasan Kerja
A.    Teori Pertentangan (Discrepancy Theory)
Teori pertentangan dari Locke menyatakan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan terhadap beberapa aspek dari pekerjaan mencerminkan penimbangan 2 nilai, yaitu:
1.      pertentangan antara apa yang diinginkan seseorang individu dengan apa yang diterima
2.      pentingnya apa yang diinginkan bagi individu
Kepuasan kerja secara keseluruhan bagi seorang individu adalah jumlah dari kepuasan kerja dari setiap aspek pekerjaan dikalikan dengan derajat pentingnya aspek pekerjaan bagi individu. Menurut Locke seseorang individu akan merasa puas atau tidak merupakan suatu yang pribadi, tergantung bagaimana ia mempersiapkan adanya kesesuaian atau pertentangan antara keinginan-keinginannya dan hasil-keluarannya. Tambahan waktu libur akan menunjang kepuasan tenaga kerja yang menikmati waktu luang setelah bekerja, tetapi tidak akan menunjang kepuasan kerja seseorang tenaga kerja lain yang merasa waktu luangnya tidak dapat dinikmati.

B.     Model dari Kepuasan Bidang/Bagian (Facet Satisfaction)
Model Lawler dari kepuasan bidang berkaitan erat dengan teori keadilan dari Adams. Menurut Model Lawler, orang akan puas dengan bidang tertentu dari pekerjaan mereka (misalnya dengan rekan kerja, atasan dan gaji) jika jumlah dari bidang mereka persepsikan harus mereka terima untuk melaksanakan pekerjaan mereka sama dengan jumlah yang mereka persepsikan dari yang secara aktual mereka terima. Contoh yang dapat diberikan misalnya persepsi seorang tenaga kerja terhadap jumlah honor yang seharusnya ia terima berdasarkan unjuk kerjanya dengan persepsi tentang honorarium yang secara aktual mereka terima. Jika ia menerima honor lebih dari yang sepatutnya ia terima maka ia akan merasa salah dan tidak adil. Sebaliknya jika ia mempersepsikan ia terima kurang dari sepatutnya maka ia akan tidak puas.

C.    Teori Proses Bertentangan (Opppoent Process Theory)
Teori Proses Bertentangan dari Landy memandang kepuasan kerja dari perspektif yang berbeda secara mendasar daripada pendekatan yang lain. Teori ini menekankan bahwa orang ingin mempertahankan suatu keseimbangan emosional (emotional equilibrium). Teori ini mengasumsikan bahwa kondisi emosional yang ekstrim tidak memberikan kemaslahatan. Kepuasan atau ketidakpuasan kerja (dengan emosi yang berhubungan) memacu mekanisme fisiologikal dalam sistem saraf pusat yang membuat aktif emosi bertentangan atau berlawanan. Dihipotesiskan bahwa emosi yang berlawanan, meskipunlebih dari emosi yang asli, akan terus ada dalam jangka waktu yang lebih lama.Teori ini menyatakan bahwa jika orang memperoleh ganjaran pada pekerjaan mereka akan merasa senang, sekaligus ada rasa tidak senang ( yang lebih lemah). Setelah beberapa saat rasa senang akan menurun dan dapat menurun sedemikian rupa sehingga orang merasa agak sedih sebelum kembali ke normal. Ini karena emosi tidak senang (emosi yang berlawanan) bertahan lebih lama (Munandar, 2001).

D.    Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow
Teori ini berpendapat bahwa dalam setiap individu memiliki lima hierarki kebutuhan mulai kebutuhan yang mendasar sampai dengan kebutuhan yang lebih tinggi. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Maslow berpendapat bahwa orang berusahan memenuhi kebutuhan pokok (fisiologis) sebelum mengarahkan perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (perwujudan diri). Karyawan memiliki kebutuhan untuk memuaskan hierarchi kebutuhannya pada tingkat yang berbeda. Karyawan kontrak (buruh kasar)lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan bertahan hidup (fisologis) sedangkan seorang yangmemiliki keahlian lebih mencari pemuasan dalam pemenuhan kebutuhan perwujuan diri. Seorang yang telah merasa cukup atas upah yang diterima (fisiologi) maka di akan berusaha memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.

E.     Teori ERG (Eksistensi-Relasi-Pertumbuhan)
Teori ERG beragumentasi bahwa sebetulnya terdapat tiga kelompok kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan terhadap keberadaan, saling berhubungandan pertumbuhan (existence, relatedness and growth). Kebutuhan keberadaan adalah kebutuhan material pokok untuk tetap berada. Kebutuhan ini adalah kebutuhan fisiologis dan rasa aman seperti pada Maslow. Kebutuhan saling berhubungan adalah suatu keinginan individu untuk mempertahankan hubungan penting dengan individu yang lain. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan sosial dan penghargaan. Sedangkan kebutuhan pertumbuhan adalahkeinginan instrinsik untuk pengembangan pribadi. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan aktualisasi diri dari Maslow dan bagian instriksik dari harga diri. Selain ketiga kebutuhan di atas, teori ini juga menjelaskan bahwakebutuhan individu tidak harus dimulai dari kebutuhan pertama. Akan tetapikebutuhan tersebut dapat terjadi terjadi secara bersama-sama. Jika kepuasan terhadap kebutuhan yang lebih tinggi terganggu, maka kebutuhan yang lebih rendah akan mendorongnya untuk mencapai tingkat kepuasan. Aplikasi terhadap proses pemberian motivasi adalah seorang manager harus mengetahui ketiga kebutuhan tersebut dan berusaha menyeimbangkanketiga kebutuhan tersebut. Dengan demikian stafnya dapat mengembangkan motivasinya dalam bekerja.
 
F.     Teori Herzberg’s (1993)
Dalam teorinya disebutkan bahwa kepuasan karyawan tergantung dua dimensi yaitu  Hygiene
dan Motivator. Hygiene tidak memotivasi karyawan akan tetapi meminimalkan ketidakpuasan karyawan. Isu Hygiene disini termasuk kebijakan perusahaan, supervisi, gaji, hubungan internal, dan kondisi kerja. Dimensi lain adalah motivator, yaitu pekerjaan itu sendiri, prestasi, pengakuan, kemungkinan bekembang, dan tanggung jawab

Faktor Penentu Kepuasaan
A.    Faktor Instrinsik
  1. Prestasi dan pengakuan
Penempatan karyawan sesuai dengan talenta atau bakat yang dimiliki akan mendorong karyawan bekerja dengan baik. Dan ini akan memberikan dampak positif pada institusi dengan peningkatan produktifitas. Akan tetapi reward sistem juga harus dikembangkan mengingat karyawan juga membutuhkan pengakuan atas prestasi yang di hasilkan (Herzberg.1993).
  1. Tanggung Jawab
Pekerja akan merasa puas bila dapat melaksanakan tugas sesuai dengan tanggungjawab yang dibebankannya atau bahkan melebihi. Sebagai contoh pekerja yang dapat memenuhi target waktu yang telah ditetapkan perusahaan (Gibson,1985)
  1. Kemajuan dan kemungkinan berkembang
Diperlukan penghargaan kepada karyawan oleh karena prestasinya dengan meningkatkan status atau level pekerjaannya. Jika memungkinkan dapat diberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan lanjut. Ini akan meningkatkan nilai mereka dan meningkatkan profesionalisme karyawan (Herzberg, 1993)
  1. Keragaman ketrampilan
Banyak ragam ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Semakin banyak ragam ketrampilan yang digunakana, makin kurang membosankan pekerjaan (Gibson,1985)
  1. Makna Pekerjaan (Work Itself)
Jika tugas dirasakan penting dan berarti bagi karyawan akan memberikan kontribusi penting pada kepuasan kerja (Herzberg, 1993)
  1. Otonomi
Pekerjaan yang memberikan kebebasan, ketidaktergantungan dan peluang dalam mengambil keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja.

B.     Faktor Ekstrinsik
  1. Gaji, penghasilan yang dirasakan adil
Uang mempunyai arti yang berbeda-beda bagi orang yang berbeda. Disamping memenuhi kebutuhan tingkat rendah (makan dan perumahan) uang dapat merupakan simbol dari capain (achievement), keberhasilandan pengakuan/penghargaan. Lagi pula uang mempunyai fungsi sekunder. Jumlah gaji yang diperoleh secara nyata mewakili kebebasan untuk melakukan apa yang ingin dilakukan. Jika dianggap gajinya terlalu rendah, tenaga kerja akan merasa tidak puas dan sebaliknya (Munandar, 2001).
  1. Hubungan antar karyawan
Tingkat kepuasan kerja yang paling besar dengan atasan adalah jika terjadi hubungan yang positif antara atasan dan bawahan atau hubungan horisontal antar rekan kerja.
  1. Rekan sejawat yang menunjang
Dalam kelompok kerja dimana para pekerjanya harus bekerja sebagai suatu tim, kepuasan kerja mereka dapat timbul karena kebutuhan tingkat tinggi mereka dapat terpenuhi dan mempunyai dampak positif pada motivasi.
  1. Kondisi kerja yang menunjang
Bekerja dalam ruang kerja yang sempit, panas dan cahaya lampu menyilaukan mata, akan menimbulkan keengganan untuk bekerja. Orang akan sering mencari alasan untuk keluar dari ruangan kerjanya. Kondisi kerja yang memperhatikan psinsip argonomi, misalnya ruangan yang sejuk, meja dan kursi yang bisa diatur, peralatan kerja yang bagus akan dapat memenuhi kepuasan kerja karyawan (Munandar, 2001).


  1. Prosedur dan kebijakan perusahaan
Sistem administrasi dan kebijakan yang mudah dipahami karyawan memudahkan karyawan untuk bekerja dengan penuh tanggungjawab tanpa disertai perasaan ketidakpuasan.
  1. Mutu supervisi
Dalam pelaksanaan supervisi harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dan dilakukan oleh seorang yang memiliki keahlian dibidangnya, sehingga dalam pelaksanaannya dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang ditemukan bukan hanya sekedar mencari kelemahan dan kesalahan karyawan.

Cara Pengungkapan Ketidakpuasan
Ketidakpuasan dapat diungkapkan dalam berbagai cara yaitu:
1.      Keluar: perilaku diarahkan dengan meninggalkan organisasi, yang meliputi mencari posisi baru sekaligus mengundurkan diri
2.      Suara: secara aktif dan konstruktif berupaya memperbaiki kondisi, yang meliputi menyarankan perbaikan, mendiskusikan masalah dengan atasan dan sebagian bentuk kegiatan perserikatan.
3.      Kesetiaan: secara pasif namun  optimis menunggu perbaikan kondisi, yang meliputi membela organisasi dari kritikan eksternal dan mempercayai organisasi dan menajemennya melakukan hal yang besar.
4.      Pengabaian: secara pasif membiarkan keadaan memburuk yang meliputi keabsenan atau keterlambatan kronis, penurunan usaha dan peningkatan kesalahan.


Wednesday, 21 September 2016

TUGAS 2 Pengantar Ekonomi Makro



                                         
1. Jelaskan hubungan  antara tingkat investasi dengan motif permintaan akan uang dengan motif transaksi, spekulasi, dan berjaga-jaga.

Tingkat INVESTASI dapat di artikan kenaikan penanaman modal. Tingkat investasi juga bisa di artikan kenaikan pembelian suatu produk tetapi untuk di gunakan pada masa mendatang,
Investasi biasanya di lakukan untuk tujuan menambah penghasilan seseorang. dalam hal ini , pelaku investasi harus menyadari beberapa resiko jika pelaku investasi mengalami kegagalan. 

Adapun hubungan antara tingkat Investasi dengan motif permintaan akan uang adalah sebagai berikut:dalam hal ini ada 3 motif permintaan uang menurut keynes, yakni motif transaksi ,motif spekulasi dan motif berjaga-jaga.

1. Tingkat Investasi dengan Motif Transaksi   

Di era teknologi dan globalisasi modern, uang merupakan alat yang di gunakan untuk kegiatan transaksi, besarnya permintaan akan uang untuk transaksi maka akan di pengaruhi oleh tingkat pendapatan , makin tinggi pendapatan maka makin tinggi pula permintaan uang untuk transaksi. 
[MDt=f(Y)]    
Y= pendapatan  
Kecenderungan untuk berInvestasi dengan motif transaksi adalah ketika tingkat pendapatan yang mempengaruhi tingkat permintaan akan uang tersebut berimbang, sehingga seorang dapat menggunakan sebagian dari transaksi uang menjadi sebuah barang yang akan dia gunakan untuk masa yang akan datang.misalnya, seorang telah memiliki pendapatan berupa uang, apabila uang tersebut ia gunakan untuk transaksi seperti pembelian saham atau tanah, maka secara otomatis ia telah memiliki investasi untuk masa yang akan datang.
Namun dalam hal ini, teori keynes hanya sampai pada titik keinginan seseorang untuk memegang uang tunai dalam rangka melakukan transaksi yang berupa kas [Transaksi permintaan].

 2. Tingkat Investasi dengan Motif Spekulasi     

spekulasi merupakan rencana b , atau bisa kita simpulkan sebagai jalan kedua mendapatkan keuntungan. 
Dalam sistem ekonomi modern dimana lembaga keuangan seperti Bank telah mengalami perkembangan yang signifikan dalam roda ekonomi yang total bertujuan untuk menarik keinginan masyarakat untuk menggunakan uangnya sebagai kegiatan spekulasi, yaitu seperti di simpan maupun membeli surat-surat berharga seperti surat obligasi pemerintah, saham atau instrumen lainnya.
Faktor yang mempengaruhi besarnya permintaan uang dengan motif ini adalah besarnya suku bunga, dividen surat-surat berharga ataupun capital gain.
[ MDs=fi/(r) ]  
 (r)=tingkat suku bunga , 
(i)=investasi 
Hubungan kongkrit antara Tingkat investasi dengan motif spekulasi sangat jelas sekali terlihat ketika seorang mempunyai keinginan untuk memegang uang dan uang tersebut telah siap untuk ia manfaatkan dalam setiap kesempatan investasi yang telah di gairahkan oleh lembaga keuangan. Dalam hal ini pelaku investasi menginginkan keuntungan tambahan dari pendapatan ber-Investasi yang mungkin akan timbul.    
Permintaan spekulatif  juga bisa di sebut sebagai permintaan untuk aset keuangan seperti sekuritas, uang/mata uang asing, yang tidak di hasilkan oleh faktor perdagangan atau pembiayaan [Transaksi Rill].  
Dan faktor Spekulatif dalam teori spekulasi adalah salah satu faktor penentu permintaan akan uang. 

3. Tingkat Investasi dengan Motif Berjaga-jaga  

    Motif berjaga-jaga merupakan motif yang akan di gunakan untuk menghadapi ketidakpastian pendapatan di masa yang akan datang. Berjaga-jaga juga berarti berhati-hati dalam perekonomian, Berjaga-jaga merupakan bentuk untuk menghindari  kebangkrutan/kemunduran/kefatalan dan berbagai kegagalan. jadi motif Berjaga-jaga yakni motif untuk menghindari kegagalan dalam kegiatan ekonomi dengan menggunakan cara spekulatif seperti menimbun atau menabung pendapatan/kekayaan si pelaku ekonomi tersebut. 
Uang selain sebagai alat berbagai transaksi dalam kegiatan ekonomi maka Uang juga di minta oleh pelaku ekonomi untuk keperluan di masa mendatang yang sifatnya Berjaga-jaga.Tingkat Permintaan akan uang yang tinggi untuk keperluan berjaga-jaga sangatlah berhubungan dengan tingkat pendapatan yang tinggi pula.
[ MDp = f(Y) ]
Motif Berjaga-jaga saya simpulkan sebagai motif Tabungan, artinya Pelaku ekonomi menabung untuk menjaga kemungkinan kegagalan yang tidak terduga. 
Selain itu ,ketika seorang cenderung menabung maka permintaan agregat [permintaan akan uang] bertambah , sehingga dapat digunakan untuk Modal atau Investasi kedepannya oleh pelaku ekonomi tersebut. 

JADI , yang sangat menentukan Tingkat investasi dengan Motif Permintaan akan uang Menurut Keynes yakni Motif Spekulasi.


Purwanti Y